Resiko Driver Wanita Ojek Online, Dari Cancel Hingga Pelecehan Seksual

Technologue.id, Jakarta – Go-Jek mengaku tidak pernah pilah-pilih gender dalam urusan rekrutmen driver. Pihak Go-Jek Indonesia menjelaskan, meski jumlah driver wanita tidak terlalu banyak namun proses rekrutmen tetap disamakan dengan driver laki-laki, termasuk mengikuti tes dan pelatihan untuk menjadi mitra. Namun begitu, bukan berarti tak ada beda perlakukan dari Go-Jek maupun penumpang terhadap driver perempuan.

“Sebenarnya kalau proses rekruitmen sama driver perempuan driver laki-laki, selama mereka memenuhi administrasi kemudian mereka lolos test safety driver itu udah bisa jadi mitra kita. Jadi enggak ada perbedaan proses rekruitmen,” tutur Shinto Nugroho, Chief Public Policy and Government Relations Go-Jek, saat mengadakan workshop mengenai safety riding, di kantor pusat Go-Jek, di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Baca Juga:
Sering Diremehkan, Go-Jek Bekali Driver Wanita Pelatihan Safety Riding

Ia mengatakan pembatalan pengguna karena tidak mau disupiri perempuan juga sangat merugikan para mitra perempuan mereka, karena akan terpengaruh pada penilaian performa mereka, yang secara langsung mempengaruhi pendapatan.

Namun bukan berarti driver wanita tidak bisa mencari pendapatan di jalan raya. Selain Go-Ride, startup karya anak bangsa itu memiliki produk-produk lain yang bisa diambil oleh driver wanita.

“Salah satu keuntungan mereka menjadi mitra Go-Jek adalah karena produknya banyak. Misalnya di cancel di Go-Ride, mereka bisa ambil Go-Food, Go-Send, Go-Tix, dan sebagainya. Tanpa harus membawa penumpang,” katanya.

Baca Juga:
Grab: Driver Terduga Pelecehan Memang “Cuma” Kami Suspend

Bicara potensi pelecehan seksual yang menimpa driver wanita, Go-Jek senantiasa memerhatikan aspek keamanan dari sisi teknologi. Salah satunya fitur rating customer yang diberikan oleh driver. Dari fitur ini, driver wanita bisa mengetahui informasi rating mengenai calon pelanggannya. Apakah memiliki nilai baik, kurang, atau buruk.

Sementara dari pihak pemerintah, mengusulkan sistem pengamanan dari aplikasi penyedia transportasi online. Langkah itu dilakukan menyusul beberapa peristiwa yang dialami penumpang ataupun pengemudi transportasi online.

“Kita melakukan pengawasan ketat karena bisnis taksi online ini kita ingin melindungi pengemudinya. Saya berbicara untuk taksi online, driver perempuan biasanya takut ambil orderan malam. Kami mendorong agar pengelola jasa taksi online meningkatkan sistem pengamanan baik untuk penumpang ataupun pengemudi melalui fitur-fitur yang disediakan. Misalkan tombol panic button,” ujar Budi Setiyadi, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI.

Budi menerangkan, bila penumpang atau pengemudi merasa terancam oleh pelaku pelecehan, mereka bisa memencet tombol Panic Button. Aplikasi dengan konsep laporan cepat itu akan terhubung dengan pihak kepolisian dan aplikator layanan transportasi online.

Latest News

Resep Makanan Paling Berguna di Game Genshin Impact

Technologue.id, Jakarta - Game Genshin Impact kini semakin populer. Dalam game ini, ternyata ada fitur memasak untuk menambah stamina karakter.

Buntut Bayar Pajak, Harga Aplikasi di Apple App Store Naik

Technologue.id, Jakarta - Apple akan mulai menaikkan harga pembelian aplikasi di App Store dalam beberapa hari kedepan. Kenaikan akan terjadi di sejumlah...

Dell Luncurkan XPS 15 dan XPS 17, Layar Lebih Lapang

Technologue.id, Jakarta - Dell Technologies memperbarui varian laptop terbaik mereka, XPS 15 dan 17, di Indonesia. Kedua laptop ini hadir dengan kinerja...

Twitter Keok, Pengguna Tidak Bisa Log In Akun

Technologue.id, Jakarta - Layanan Twitter sempat down atau tidak bisa diakses oleh para pengguna di sejumlah negara termasuk Indonesia, pada Rabu (28/10)...

Another Eden X Persona 5 Royal, Kolaborasi Bagian Kedua Bakal Hadir Bulan November

Technologue.id, Jakarta - Pada bulan Desember tahun lalu, RPG mobile populer, Another Eden, bikin event gabungan dengan Atlus 'Persona 5. Hari Minggu (25/10)...

Related Stories