Technologue.id, Bali – Samsung Galaxy A6 dan Galaxy A6 Plus (2018) secara resmi telah masuk ke Indonesia. Keduanya akan mulai dijual secara online dan offline pada awal Juni nanti dengan harga Rp3.799.000 dan Rp4.899.000. Vendor dari Negeri Ginseng itu optimistis keduanya bisa diterima dengan sangat baik oleh konsumen Tanah Air, meski ada yang menilai banderol tersebut ketinggian dibandingkan produk selevel dari para kompetitor.

Baca juga:

Samsung Galaxy A6 dan A6 Plus (2018) Resmi Masuk Indonesia, Harga?

Jo Semidang, IM Marketing Director Samsung Electronics Indonesia, punya alasan mengapa pihaknya tak ragu melepas anggota keluarga terbaru A Series ini dengan mahar segitu. Pasalnya, positioning Galaxy A6 dan A6 Plus di pasaran memang sebagai perangkat untuk user yang berniat naik kelas ke mid-range premium. “Naik kelasnya di mana? Super AMOLED, full-metal body, Dolby Atmos, dan kamera yang bagus,” katanya.

- Advertisement -

Baca juga:

Mengapa Bodi Samsung Galaxy A6 (2018) Tak Anti Air?

Jo mengatakan bahwa Samsung terus berupaya mengedukasi konsumen agar tidak hanya melihat ponsel dari spesifikasinya saja. “Kami enggak jual komponen, kami jual benefit,” tandasnya, di hadapan awak media saat media session di Bali (08/05/2018).

Galaxy A6 Plus, misalnya, acap dibandingkan dengan brand smartphone lain yang sudah menyediakan dual-camera tetapi harganya tak sampai Rp4 jutaan, Jo menjelaskan kalau ponsel ini memang layak dihargai segitu karena ada nilai tambahnya. Value added yang tak semua kompetitor Galaxy A6 Plus miliki itu di antaranya, Bixby Vision, dukungan teknologi audio dari Dolby Atmos, Live Focus untuk menghasilkan jepretan dengan efek bokeh ciamik, sampai slot microSD yang bisa mendukung hingga kapasitas 400GB.

Baca juga:

Galaxy J7 Duo Meluncur, Smartphone Kamera Ganda Termurah Samsung

Senada dengan Jo, Denny Galant menambahkan kalau memilih device sejatinya tidak cuma berdasarkan RAM, ROM, atau kapasitas baterainya saja. Perlu ada fitur-fitur tambahan yang tersedia agar lebih sesuai dengan kebutuhan user secara lebih spesifik.

“Totalitas experience yang kami cari. Kami tak ingin konsumen melihat satu per satu komponen saja,” kata pria yang menjabat sebagai Head of IM Product Marketing Samsung Electronics Indonesia itu di kesempatan yang sama.