Technologue.id, Jakarta – Regulasi validasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) akan ditetapkan bulan Agustus mendatang. Setelah sah, diharap mampu mengurangi penyelundupan ponsel dan peredaran ponsel black market. Menanggapi keputusan tersebut, Edy Kusuma, General Manager for Brand and Activation Vivo Indonesia, mengatakan jika pihaknya mendukung penuh regulasi yang diterapkan Pemerintah.

“Apapun keputusan pemerintah kita pasti ikut mendukung,” katanya usai acara peluncuran Vivo S1, Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Baca Juga:
Beredar di Indonesia, Vivo S1 Bawa Fitur Andalan Seri V

Bentuk dukungan Vivo terhadap segala peraturan di dalam negeri ini, dikatakan Edy, dimulai sejak penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Semenjak Vivo membangun pabrik ponsel dan dirakit di Indonesia sendiri, membuktikan bahwa mereka serius mengikuti pemerintah sebelum regulasi IMEI itu dikeluarkan.

“Kita mengikuti aturan, seperti TKDN. Kita tidak khawatir karena kita punya pabrik sendiri (di Cikupa),” tutur pria berkacamata itu.

Baca Juga:
Vivo S-series Segera Muncul, Bagaimana Nasib Seri Y?

Sebelum regulasi IMEI diterapkan di Indonesia, vendor ponsel yang kini bertengger di posisi tiga besar pasar smartphone tanah air itu terus melakukan edukasi kepada masyarakat Indonesia untuk tidak membeli perangkat ilegal. Dia memastikan jika ponsel yang diproduksi di Indonesia dan dikeluarkan resmi oleh Vivo Indonesia adalah resmi.

Tidak ada alasan bagi konsumen untuk membeli ponsel Vivo ilegal. Selain punya pabrik, perusahaan juga memiliki service center yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini memudahkan pengguna bila ingin memperbaiki ponsel mereka.

“Kita mengedukasi konsumen dan bila mereka setia terhadap produk kami, mudah kok dicarinya dimana saja. Saat ini Vivo sudah punya 80 service center di seluruh Indonesia,” tandas Edy.