Waspada Transaksi Online saat Lebaran

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – Hampir seperti tahun lalu, Hari Raya 2021 akan bergeser secara online. Semua orang melakukan reuni melalui platform video dan aplikasi perpesanan, hingga berbelanja melalui situs e-commerce.

Kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini membuat situasi pandemi dapat ditanggulangi cukup baik, namun para pelaku kejahatan siber turut mengintai para pengguna dimana pun mereka berada.

Perusahaan keamanan siber global, Kaspersky, membagikan wawasan terbaru dan tips mendasar untuk memungkinkan masyarakat Indonesia merayakan Hari Raya dengan aman, meskipun secara virtual.

Baca Juga:
Kaspersky Catat Perubahan Target Kejahatan Siber, Ini Solusinya

Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia secara umum jelas merangkul dan mengadaptasi teknologi dengan baik, terlihat dari penggunaan e-wallet yang semakin populer di Indonesia dan banyak penggunanya didominasi oleh generasi muda yang kami percaya adalah generasi melek teknologi yang menyadari pentingnya keamanan data.

“Tren lain yang juga menjadi sorotan adalah bahwa ponsel cerdas hampir selalu menjadi perangkat yang digunakan untuk transaksi keuangan, dari e-wallet hingga mobile banking dan berbelanja online. Berdasarkan data, kami melihat bahwa pelaku kejahatan siber secara aktif mencoba menginfeksi perangkat para pengguna di Indonesia, untuk mencuri data maupun uang mereka,” ujar Connell.

Connell menekankan, melakukan kegiatan di hari besar secara virtual akan tetap aman asalkan pengguna tidak lengah.

“Selama kita selalu waspada terhadap situs web yang dikunjungi, tautan yang kita klik, pesan yang kita teruskan, dan yang paling penting jika kita memiliki solusi keamanan dasar yang terpasang di perangkat pribadi,” ujarnya.

Baca Juga:
Apple Rilis iOS Versi 14.4, Kaspersky Sarankan Segera Lakukan Pembaruan

Tinjauan statistik terbaru Mobile Malware Kaspersky tahun 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 378.973 upaya malware seluler terdeteksi di Indonesia tahun lalu. Ini merupakan penurunan sebanyak 31,89% dari 556.486 deteksi pada periode yang sama di tahun 2019.

Meski mengalami penurunan, statistik Indonesia masih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Negara ini juga berada di posisi ke-4 secara global dalam hal deteksi mobile malware.

Negara-negara yang mencatat jumlah paling banyak dari ancaman mobile malware pada tahun 2020 secara global adalah Rusia, Ukraina, dan India.

Untuk mobile malware yang paling umum terdeteksi di Indonesia adalah Trojan, Trojan-Downloader, Trojan-Dropper, Trojan-SMS, dan HackTool. Umumnya 99,9% ancaman diciptakan untuk Android, dan kurang dari 0,1% untuk iOS di seluruh dunia.

- Advertisement -

Latest News

Related Stories