Technologue.id, Jakarta – Studi yang dilakukan oleh lembaga riset independen DEKA mengungkap bahwa penggunaan smartphone paling besar adalah untuk menyimpan kenangan.

Studi yang menyasar pada 1.120 responden tersebut menunjukkan bahwa 93 persen pengguna ponsel mengakses fitur kamera untuk foto, serta 63 persen menggunakan untuk merekam video.

“Mungkin selama ini kita berpikirnya, smartphone most likely lebih untuk technical atau functional. Ternyata majority menggunakan smartphone untuk emotional reason atau emotional purpose. Mereka menggunakan smartphone sebagai device untuk mengambil foto atau perekaman video,” ungkap Mamik S. Leonardo, Research Director DEKA, ketika memaparkan hasil Indonesian Consumer Mobile Habit and Data Management Survey, di GoWork, Jakarta, Senin (8/7/2019).

Baca Juga:
Cuek, Pengguna Smartphone Jarang Backup Data

Selain untuk menyimpan konten foto dan video, penggunaan smartphone juga kerap diandalkan untuk komunikasi, baik untuk panggilan telepon (87 persen) maupun chatting (72 persen).

Berselancar di dunia maya juga menjadi salah satu aktivitas favorit pengguna smartphone. Mereka eksis di media sosial (sebesar 63 persen) atau sekedar browsing (61 persen).

Masih laporan dari hasil riset DEKA, fasilitas hiburan yang ditawarkan smartphone turut menjadi magnet tersendiri. Mulai bermain game (55 persen), streaming video (49 persen), hingga streaming musik online (17 persen).

Baca Juga:
microSD Sandisk 1 TB Mulai Dipasarkan, Berapa Harganya?

Sementara itu, di luar grouping besar tersebut, pengguna di tanah air juga menggunakan smartphone untuk mengakses layanan Maps (42 persen), mengakses transportasi online (40 persen), belanja online (30 persen), mengecek email (28 persen), mengakses mobile banking (11 persen) sampai membuka aplikasi pekerjaan (8 persen).

Dengan temuan behaviour pengguna smartphone ini, Mamik mengatakan bahwa masyarakat Indonesia telah akrab menggunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan lifestyle mereka.

“Ada 93 persen pengguna smartphone di Indonesia. Penetrasinya bisa dikatakan hampir penuh atau saturate. Artinya masyarakat Indonesia sudah melek dan berinteraksi dengan teknologi,” ujarnya.