Baca juga:
Ini Dia Wujud Armada Taksi Terbang Buatan Uber
Memanfaatkan kecerdasan buatan, sistem ini juga bisa mencari tahu akurasi penumpang dalam memencet atau berinteraksi dengan interface aplikasi Uber. Selain itu, sistem pun mampu memantau cara perangkat dipegang oleh pengguna dan seberapa cepat pengendara berjalan saat memesan tumpangan. Indikator-indikator macam itulah yang pada akhirnya dianalisis untuk memprediksi apakah calon penumpang tersebut dalam keadaan mabuk atau tidak.Baca juga:
Ini Detik-detik Mobil Otonom Uber Tabrak Wanita Hingga Tewas
Apabila sistem mendeteksi gejala tersebut, maka Uber akan menghubungkan penumpang itu dengan driver yang berpengalaman dalam mengurus hal ini atau pernah mengurus situasi serius sebelumnya. Uber juga akan menginformasikan pada mitranya kemungkinan kondisi calon penumpangnya itu dan memberi saran penjemputan sekaligus penurunan di lokasi dengan pencahayaan yang baik.Baca juga:
Menurut riset dari Uber, platformnya telah mampu mengurangi peluang orang mabuk mengemudi di Amerika Serikat karena memesan tumpangan via Uber amat mudah. Namun di sisi lain, hal ini ditakutkan dapat merugikan penumpang sendiri, seperti kemungkinan terjadinya pemerkosaan atau tindak kejahatan lain. Sebab, sejauh ini tercatat ada lebih dari 100 driver Uber yang melakukan kejahatan kepada korban yang kebanyakan sedang mabuk.