Technologue.id, Jakarta – Pasar negara berkembang masih menggandrungi ponsel berkemampuan dasar alias feature phone. Hingga 2019, penjualan feature phone diperkirakan masih bisa mencapai 350 juta unit per tahun. Melihat potensi pasar tersebut, Google kemudian menyebarkan sejumlah layanannya seperti Google Search, Google Maps, dan Google Voice Assistant untuk miliaran pengguna internet berikutnya di pasar negara berkembang.

Google telah menggelontorkan dana sebesar US$22 juta (atau senilai Rp310 miliar) ke KaiOS, perusahaan yang telah membangun sistem operasi eponymous untuk feature phone yang mengemas berbagai aplikasi asli dan layanan seperti smartphone lainnya. Sebagai bagian dari investasi, KaiOS akan bekerja mengintegrasikan layanan Google seperti fitur pencarian, maps, YouTube dan asisten suaranya ke lebih banyak perangkat KaiOS.

“Pendanaan ini akan membantu kami mempercepat pembangunan dan penyebaran feature phone pintar yang menggunakan KaiOS secara global, memungkinkan kami untuk menghubungkan populasi besar yang masih tidak dapat mengakses internet, terutama di pasar negara berkembang,” kata CEO KaiOS, Sebastien Codeville, dalam pernyataan resminya.

Baca juga:

Google Kini Tahu Berapa Jauh Rumah Anda dengan Kutub Utara

Seperti yang diketahui, dunia mobile saat ini didominasi oleh smartphone: ada sekitar 1,6 miliar di antaranya terjual tahun lalu. Namun feature phone ternyata juga masih mempunyai pelanggan loyal. Diperkirakan ada sekitar 450 juta-500 juta di antara mereka yang dikapalkan pada tahun 2017. Dan penjualan feature phone sebenarnya tumbuh lebih cepat saat ini daripada tahun-tahun sebelumnya.

Ponsel bertenaga KaiOS mendapatkan traksi di pasar di mana ponsel fitur masih memegang kendali. Di India, mereka telah melampaui iOS Apple untuk menjadi perangkat paling populer kedua setelah handset Android. Menyadur dari TechCrunch.com (28/06/2018), ada lebih dari 40 juta telepon KaiOS yang dikirim hingga saat ini.

Investasi Google terhadap KaiOS dapat dilihat sebagai cara memperkenalkan layanannya kepada pengguna ponsel dasar yang mungkin akhirnya beralih ke smartphone. Namun, ada juga ruang untuk mempertahankan pengguna ini meskipun mereka tetap berada di kategori ponsel menengah, yang terus berkembang dan menjadi lebih fungsional.

“Kami senang bekerja sama dengan Google untuk memberikan layanannya di lebih banyak perangkat seluler,” kata Codeville. “Memiliki asisten suara yang cerdas di telepon seluler harga terjangkau benar-benar revolusioner karena membantu mengatasi beberapa keterbatasan yang dibawa oleh keypad.”

Baca juga:

Google Hadiahkan Rp1 Miliar Lebih ke Anak SD Ini, Ada Apa?

KaiOS adalah proyek yang berbasis di AS yang dimulai pada tahun 2017, dibangun di atas percobaan Mozilla Firefox OS yang gagal, dari basis kode Linux. Firefox OS dimaksudkan untuk menjadi dasar gelombang baru HTML-5, smartphone berbiaya rendah. Di saat perangkat dan ekosistem yang lebih luas tidak pernah benar-benar lepas landas, KaiOS telah bernasib lebih baik secara signifikan.

KaiOS memberdayakan ponsel yang dibuat oleh OEM termasuk Nokia (HMD), Micromax dan Alcatel, dan bekerja dengan operator termasuk Sprint dan AT & T. Namun penyebarannya yang paling signifikan hingga saat ini adalah dengan Reliance Jio dari India, operator telco di pasar India yang menawarkan paket data 4G yang terjangkau.

Reliance Jio menawarkan rangkaian handset KaiOS-nya sendiri, dan menggabungkannya dengan paket data murahnya. Strategi ini terbukti sukses, alhasil pangsa pasar ponsel KaiOS di India dilaporkan melonjak hingga 15 persen – mengalahkan iOS Apple dan menempatkannya di belakang hanya Android. Pangsa pasar dengan pertumbuhan tinggi seperti India tersebut lantas menarik minat Google.

“Kami ingin memastikan bahwa aplikasi dan layanan Google tersedia untuk semua orang, apakah mereka menggunakan desktop, ponsel cerdas, atau ponsel menengah,” kata Anjali Joshi, Wakil Presiden Manajemen Produk untuk divisi Google Billion Next Users. “Menyusul keberhasilan JioPhones, kami senang bekerja dengan KaiOS untuk lebih meningkatkan akses ke informasi bagi pengguna ponsel menengah di seluruh dunia.”

Baca juga:

Google “Ceraikan” Uber dari Aplikasi Maps

Di luar ini, unit bisnis Billion Next Users bekerja untuk menyesuaikan pengalaman dan layanan Google agar sesuai dengan kebutuhan pengguna internet baru di pasar negara berkembang, termasuk peluncuran layanan baru seperti aplikasi lingkungan dan program WiFi publik yang sukses.

Agar jelas, layanan Google bukan satu-satunya di KaiOS. Sebelumnya, ada layanan media sosial Twitter dan Facebook yang tersedia pada awal tahun ini. Selanjutnya, layanan pesan instan WhatsApp juga dikatakan akan hadir di KaiOS.