Technologue.id, Jakarta – Banyak yang percaya kalau implementasi artificial intelligence (AI) tak ada batasnya; bahkan tak hanya bagi konsumen dan korporat, tetapi juga untuk kepentingan militer.

Project Maven, atau Algorithmic Warfare Cross-Function Team, adalah contohnya. Program riset Pentagon yang dicap kontroversial itu bertujuan untuk mengembangkan dan mengintegrasikan algoritma untuk membantu drone militer dalam pengintaian di wilayah peperangan. Project Maven sendiri melibatkan pemain industri teknologi sebesar Google.

Baca juga:

Smart Speaker Google Catatatkan Rekor Pertamanya

Namun, pada akhirnya Google memutuskan untuk mundur dari proyek militer ambisus ini. Kata Diane Greene, head of Google Cloud, dalam meeting internalnya, Google akan tetap membantu Departemen Pertahanan Amerika Serikat, tetapi hanya sampai kontraknya berakhir pada 2019 mendatang.

Mengutip NYTimes.com (01/06/2018), kepastian ini muncul tak lama setelah Google berencana menyusun kebijakan etika dalam keterlibatannya dalam proyek penggunaan AI dalam militer di masa depan.

Baca juga:

Google Pixel Bakal Ikutan Tren Notch?

Sebelumnya, di tubuh internal Google sendiri sudah ada pergolakan terkait kerja sama ini. Lebih dari 4.000 pegawai Google telah mengisi petisi supaya raksasa internet itu mundur dari program ini. DeepMind, subsider Google yang fokus di AI merasa tak puas dilibatkan di proyek ini. Belasan orang bahkan resign dari pekerjaannya sebagai bentuk protes atas keterlibatan Google.

Baca juga:

Kira-kira, Google Perlu Mahar Segini Kalau Mau Akuisisi YouTube Sekarang

Di sisi lain, Project Maven merupakan ladang emas bagi Google. Dalam jangka panjang, Google bisa meraup hingga US4250 juta (sekitar Rp3,5 triliun) dari Project Maven. Selain Google, perusahaan teknologi lain yang disebut terlibat dalam proyek ini adalah IBM, Amazon, dan Microsoft.