Hindari Monopoli, KPPU Fokus Monitoring Pasca Grab Akusisi Uber

Technologue.id, Jakarta – Proses akusisi Uber oleh Grab di Asia Tenggara nyatanya juga menemui sejumlah kendala. Tak seperti di Indonesia yang berjalan tanpa hambatan, langkah Grab untuk mengambil alih Uber sedikit menemui batu sandungan di Singapura. Hal ini disebabkan adanya indikasi terjadinya monopoli pada persaingan usaha di bidang ride sharing.

Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha di Singapura (CCCS), mengendus indikasi akan adanya monopoli seiring dengan akusisi Uber oleh Grab. Menurut CCCS, monopoli ini menyebabkan Grab akan dengan bebas menaikkan harga karena tidak ada pesaing serupa di Singapura.

Baca juga:

Uber-Grab Kesandung di Singapura dan Filipina, Lancarkah di Indonesia?

Kejadian ini tak pelak turut mendapat perhatian dari Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha di Indonesia (KPPU). Menurut Muhammad Syarkawi Rauf, selaku ketua KPPU, pihaknya tidak akan melakukan peninjauan ulang terkait akusisi Uber oleh Grab di Indonesia. Sebab regulasi yang digunakan di Indonesia berbeda dengan Singapura.

“Regulasi merger Indonesia berbeda dengan Singapura, di mana pengambilalihan aset tidak menjadi obyek yang wajib di notifikasi kepada otoritas persaingan Indoensia,” ujar Syarkawi.

Baca juga:

Ini 3 Fitur Baru Grab Guna Minimalisir Orderan Fiktif

Untuk menghindari terjadinya monopoli harga, seperti indikasi yang terjadi di Singapura, pihak KPPU akan berfokus melakukan monitoring secara berkala paska akusisi yang dilakukan oleh Grab.

“Hal yang dapat dilakukukan di Indonesia adalah melakukan monitoring terhadap tindakan yang dilakukan oleh Grab pasca akusisi. Salah satu yang dapat menjadi fokus KPPU adalah mengawasi adanya potensi predatory pricing, apa lagi jika perusahaan hasil akuisisi didukung oleh permodalan yang kuat,” jelas Syarkawi.

Baca juga:

Grab-OVO-MRT Jakarta Bangun Sistem Transportasi Terintegrasi

Monitoring ini dilakukan agar industri ridesharing di Indonesia dapat berjalan secara sehat tanpa adanya monopoli. Harapannya, nantinya masyarakat juga yang dapat menikmati layanan yang terjangkau dengan harga yang lebih bersaing.

“Tujuannya untuk menjaga agar industri transportasi berbasis aplikasi online tetap bersaing secara sehat, tanpa tendensi ke arah predatory pricing,” tutup Syarkawi.

Recent Articles

Berbagi Informasi Tentang Era New Normal, PT. Datascrip dan Canon Gelar Halal Bihalal Virtual

Technologue.id, Jakarta - Menyambut era normal baru di berbagai kota di Indonesia, pt. Datascrip sebagai distributor tunggal produk pencitraan digital Canon di...

Fast and Furious Crossroads Siap Rilis Bulan Agustus

Technologue.id, Jakarta - Fast & Furious Crossroads bawa mobil, gadget, dan keluarga ke PC, PS4, dan Xbox One pada 7 Agustus 2020.

Facebook ‘Todong’ Akun yang Tebar Konten Viral

Technologue.id, Jakarta - Facebook dikabarkan mulai menyoroti akun yang sering membagikan postingan viral. Kebijakan ini diambil guna memastikan akun tersebut asli dan...

The Last of Us Part II Segera Hadir dengan Seagate Game Drive Edisi Terbatas Berlisensi Resmi

Technologue.id, Jakarta - Seagate memperkenalkan Seagate Game Drive 2 TB The Last of Us Part II Edisi Terbatas Berlisensi Resmi, yang akan...

Keren! Dokter Ini Kenakan APD Bertema Superhero

Technologue.id, Jakarta - Kecintaannya terhadap tokoh-tokoh superhero membuat nama Dokter Rollando Erric Manibuy melejit di media sosial. Ia menjadi sorotan warganet setelah...

Related Stories