Technologue.id, Jakarta – Media sosial dewasa ini sudah berkembang secara fungsi. Tak cuma untuk saling berkomunikasi atau mengunggah foto dan video, medsos juga kini menjadi alat penting untuk kepentingan politik dan mempengaruhi publik. Pemilu Amerika Serikat 2016 lalu, di mana Rusia sampai bisa campur tangan melalui Facebook, adalah contoh nyatanya.

Pemerintah Bangladesh mungkin berkaca dari fenomena ini. Di sana, koneksi data seluler 3G dan 4G pun dimatikan mulai Sabtu (29/12/2018), sehari sebelum pemilu dilangsungkan. Alasannya, demi menghindari sebaran rumor dan propaganda yang berpotensi mencurangi pemilu setempat. Alhasil, masyarakat tidak bisa menjalankan rutinitasnya seperti menonton video streaming atau mengunggah foto, karena mereka hanya bisa memaksimalkan koneksi internet di jaringan 2G.

Baca juga:

Pencipta Internet Desak Google dan Facebook Hargai Privasi Netizen

Melansir Engadget.com (29/12/2018), embargo koneksi internet ini berlaku sampai berakhirnya Pemilu Bangladesh hari ini, 30 Desember 2018. Sebelumnya, pemerintah Bangladesh pun sudah meminta Facebook dan Twitter untuk memberedel akun palsu berbau politik. Bulan ini, setidaknya sembilan Page dan enam akun Facebook serta 15 akun Twitter diblokir.

- Advertisement -

Baca juga:

SpaceX Siap Luncurkan 7.000 Satelit Internet

Keputusan ini berbau kontroversi. Sebab, ada dugaan petahana mencoba menghambat dukungan dari oposisi yang digalang lewat media sosial. Terlebih, ini bukan kali pertama pemerintah Bangladesh menutup akses warganya ke internet berikut layanannya.

Baca juga:

Donald Trump Hiasi Hasil Pencarian Gambar “Idiot”, Ini Alasan CEO Google

Agustus lalu, negara itu dicurigai ingin menghentikan sebaran informasi kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran. 2015 silam, Bangladesh juga memblokir aplikasi pesan instan untuk menggagalkan protes warganya.