Technologue – Meski aksesnya diblokir oleh sejumlah provider internet, invasi Netflix di Indonesia justru makin masif. Padahal platform streaming film ini memiliki metode penyaringan batasan usia dan kebijakan sensor yang dianggap lemah.

Namun di sisi lain, Netflix mampu memberikan tayangan berkualitas. Jadi tak mengejutkan kalau Netflix kembali menjadi perbincangan lagi setelah mereka mengumumkan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya. Tentunya, kerja sama ini pun menuai pro kontra.

Di satu sisi, banyak yang mendukung langkah Menteri Nadiem karena banyak peluang mendapatkan hiburan yang berkualitas. Namun di sisi lain, langkah tersebut dianggap mengangkangi pemerintah yang masih menekan Netflix untuk membuka kantor dan membayar pajak ke Indonesia.

Baca juga:

Netflix: Ditolak Kominfo, Dipinang Kemdikbud

Apalagi film-film Netflix juga kerap menuai perdebatan, terutama yang original buatan mereka. Yang paling kentara dari konten-konten Netflix adalah tampilannya yang jauh dari sensor. Misalnya adegan berdarah-darah yang diperlihatkan dengan jelas, dan kerap mempertontonkan adegan-adegan vulgar dan seksi mengarah ke pornografi.

Memang Netflix memiliki fitur parental control, namun tetap saja konten-konten tersebut bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja.

Selain tak ada sensor adegan berdarah dan pornografi, Netflix kerap membuat serial original yang penuh kontroversi. Yang sangat heboh kala itu adalah The First Temptation of Christ yang menuai penolakan lewat tanda tangan 11,8 juta orang di petisi change.org.

Sementara yang terbaru adalah film bertajuk Messiah yang bercerita tentang kedatangan Imam Mahdi tepat saat perang Suriah berkecamuk. Film original itu dinilai provokatif, antikristus, dan mengarah ke propaganda anti-Islam.

Semua ini bertentangan dengan kebijakan di Indonesia yang dengan tegas melarang beredarnya konten berbau SARA, LGBT dan Pornografi.

Baca juga:

#NetflixTidakAman, Apa Benar?

Selain banyaknya konten jauh dari sensor, Netflix juga tidak menyediakan fitur untuk melaporkan konten-konten yang tak pantas. Sehingga kecil kemungkinan konten tersebut diturunkan dari Netflix. Beda dengan Youtube atau platform streaming lain yang menyediakan tombol untuk melaporkan konten yang dianggap tidak pantas.

Dijelaskan Heru Sutadi selaku pengamat telekomunikasi, IT, dan ekonomi digital, jika mau beroperasi secara “resmi” di Indonesia, sudah pasti konten-konten yang disajikan oleh Netflix harus berjalan sesuai aturan yang ada di Indonesia. Minimal, disesuaikan dengan kultur negara ini.

“Hal ini juga berlaku untuk semuanya, bukan cuma Netflix. Konten di dalamnya itu harus ada pembatasan usia. Game saja sekarang diatur soal pembatasan usia,” ungkap Heru.