Bos Keamanan TikTok Sebut AS Keliru Pahami Perlindungan Data Pengguna

Technologue.id, Jakarta – Chief Security Officer TikTok, Roland Cloutier, menuding Departemen Perdagangan AS telah salah mengartikan cara menyimpan dan mengamankan data pengguna dari aplikasi video singkat tersebut.

Hal ini dikatakan Cloutier dalam dokumen pengadilan saat memperbarui mosi untuk perintah awal terhadap larangan pemerintahan Trump, sebagaimana dirangkum dari The Verge (15/10/2020).

Menurutnya Cloutier, Departemen Perdagangan AS membuat beberapa pernyataan yang salah tentang kebijakan dan praktik keamanan data perusahaan. Akibatnya, TikTok dituduh diam-diam mengirim data ke China dan membuka jalan untuk program spyware.

Baca Juga:
Ngeyel, Akhirnya Pakistan Blokir TikTok

Bulan lalu, Departemen Perdagangan AS menyatakan bahwa server TikTok tidak terpisah dari Douyin atau aplikasi serupa versi China. Bahkan servernya masih menyatu dari sistem perusahaan induk ByteDance.

“Fungsionalitas termasuk penyimpanan, manajemen internal, dan algoritma masih dibagikan sebagian di seluruh produk ByteDance lainnya,” sebut Departemen Perdagangan AS.

Namun Cloutier mengatakan bahwa tumpukan software milik TikTok sepenuhnya terpisah dari tumpukan software Douyin, yang berarti source code setiap aplikasi dan data pengguna disimpan secara terpisah. Tujuannya, untuk memenuhi batasan sensor China.

Pemerintah juga salah mengartikan bagaimana TikTok menyimpan data pengguna AS, kata Cloutier. Memo perdagangan menyatakan bahwa TikTok menyewa server dari Alibaba Cloud di Singapura dan China Unicom Americas (CUA) di AS, yang dituduhkan berisiko besar.

Baca Juga:
Jual TikTok, ByteDance Harus Dapat Restu China

Cloutier mengatakan CUA menyediakan ruang pusat data – gedung dan listrik – untuk TikTok, tetapi tidak menyediakan server. ByteDance memiliki dan mengoperasikan semua server yang disimpan dalam fasilitas CUA, kata Cloutier, dan server dikunci dalam sangkar di fasilitas tersebut.

Ketika TikTok menyewa ruang server dari perusahaan lain, Cloutier menambahkan, itu tidak berarti bahwa perusahaan tersebut memiliki akses ke informasi kepemilikan TikTok. Data pengguna dienkripsi dalam penyimpanan dan dipecah, artinya dipecah menjadi beberapa bagian di beberapa server.

Selain itu, Cloutier mengatakan, kode sumber usang dengan alamat IP China telah dihilangkan dari aplikasi TikTok v. Dia mengatakan bug yang mengakses konten dari clipboard pengguna TikTok juga telah dihapus, bersama dengan program anti-spam yang mengakses data clipboard.

Latest News

Dell Luncurkan XPS 15 dan XPS 17, Layar Lebih Lapang

Technologue.id, Jakarta - Dell Technologies memperbarui varian laptop terbaik mereka, XPS 15 dan 17, di Indonesia. Kedua laptop ini hadir dengan kinerja...

Twitter Keok, Pengguna Tidak Bisa Log In Akun

Technologue.id, Jakarta - Layanan Twitter sempat down atau tidak bisa diakses oleh para pengguna di sejumlah negara termasuk Indonesia, pada Rabu (28/10)...

Another Eden X Persona 5 Royal, Kolaborasi Bagian Kedua Bakal Hadir Bulan November

Technologue.id, Jakarta - Pada bulan Desember tahun lalu, RPG mobile populer, Another Eden, bikin event gabungan dengan Atlus 'Persona 5. Hari Minggu (25/10)...

Vivo Ubah Nama Funtouch OS Menjadi Origin OS

Technologue.id, Jakarta - Vivo memiliki proyek in-house software baru yang disebut Origin OS. Origin OS ini akan menggantikan 'skin' dari sistem operasi...

Bisnis Hotel OYO Kunjung Membaik

Technologue.id, Jakarta - Jaringan hotel murah OYO terus memperkuat pondasi dan ekosistem bisnisnya di Indonesia, meski di tengah pandemi COVID-19.

Related Stories