Technologue.id, Jakarta – Pada akhir Maret, buntut skandal Cambridge Analytica menghempaskan manajemen Facebook ke dalam krisis sehingga harga sahamnya jatuh. Kepercayaan netizen pun berkurang, seperti terlihat dari aksi Elon Musk yang menghapus halaman Facebook dari dua perusahaannya, Tesla dan SpaceX.

Berhenti menggunakan Facebook bukan berarti Musk benar-benar meninggalkan dunia media sosial. Sebagai gantinya, ia beralih ke aplikasi berbagi foto milik Facebook, yaitu Instagram. Musk terus mem-posting update informasi ke jutaan pengikutnya di Instagram.

Instagram, yang pada pekan lalu telah mencapai satu miliar pengguna, telah menjadi ‘obat mujarab’ bagi Facebook dalam menangani kontroversi, boikot, dan kecaman pengguna muda.

Ketika Mark Zuckerberg setuju membeli Instagram senilai US$1 miliar pada tahun 2012, aplikasi yang baru meluncurkan layanan IGTV tersebut masih memiliki 30 juta pengguna aktif dan 10 karyawan. Setelah dua tahun berlalu pun, Instagram belum mengantongi pendapatan yang menguntungkan.

Saat itu, muncul kritik yang menyebut fitur utama Instagram – seperti menambahkan filter efek blur – mudah ditiru dan sudah banyak aplikasi seperti itu di toko aplikasi online. Label harga US$1 miliar pun dituding terlalu mahal.

- Advertisement -

Baca juga:

Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Platform Video Terbaru Instagram, IGTV

Namun, anggapan tersebut ternyata keliru saat ini. Instagram berkembang lebih cepat dari Facebook itu sendiri, setelah mendapatkan 200 juta pengguna baru dalam sembilan bulan terakhir. Tidak seperti dua akuisisi utama Zuckerberg lainnya (WhatsApp dan Oculus), Instagram mampu menyumbang revenue yang besar ke lini teratas Facebook.

Di seluruh dunia, Instagram diharap bisa mengantongi US$8,1 miliar (Rp115,7 triliun) dalam revenue iklan di tahun ini, di mana hampir dua kali lipat ketimbang tahun lalu, menurut perkiraan dari eMarketer. Sementara pada tahun 2020, pemasukan ini akan menjadi dua kali lipat lagi, menjadi US$17 miliar (Rp242 triliun).

Aplikasi dengan fitur Stories ini lebih dari sekedar meraih kesuksesan finansial. Keunggulan lainnya, Instagram telah bebas dari banyak kontroversi yang telah memeras Facebook. Sifatnya yang sangat visual – karena sebagian besar terfokus pada foto dan video – dan tidak adanya fitur berbagi artikel membuat postingan hoax tidak mudah menjadi viral di Instagram.

Baca juga:

Lebaran 2018, Netizen Indonesia Sesaki 5 Aplikasi Ini

Ketika skandal pencurian data merebak, pengguna Facebook terutama segmen remaja dan pengguna muda, dilaporkan berbondong-bondong beralih ke Instagram. Menurut Pew Research Center, hanya 51 persen orang Amerika antara usia 13-17 yang menggunakan Facebook, turun dari 71 persen tiga tahun lalu. Sebagai perbandingan, 72 persen rentang usia tersebut ada di Instagram.

Dua tahun lalu, Instagram memperkenalkan fitur ‘Stories’ yang memungkinkan pengguna untuk mem-posting foto atau video yang otomatis menghilang setelah 24 jam. Fitur itu menjiplak dari Snapchat, yang notabene pesaing berat Facebook. Perusahaan sengaja mempersenjatai Instagram dengan Stories, agar dapat menantang langsung Snapchat. Zuckerberg diketahui mendalangi strategi tersebut meski sempat berdebat dengan bos Instagram Kevin Systrom.

Siapa sangka, delapan bulan kemudian, jumlah orang yang menggunakan Instagram Stories telah melampaui seluruh basis pengguna Snapchat.

Baca juga:

Pengguna Instagram Tembus 1 Miliar

Minggu ini, Instagram diperbarui dengan tantangan baru. Layanan ini meluncurkan aplikasi video terpisah, Instagram TV (IGTV), yang dirancang untuk menggeser tahta YouTube sebagai layanan video untuk remaja dan generasi millennial. Layanan ini akan memungkinkan selebriti dan tokoh populer lainnya untuk memposting video hingga satu jam.

Facebook telah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk menjadi pemain utama dalam video berdurasi panjang. Jika Instagram bisa sukses dengan IGTV-nya, tentu pencapaiannya bisa melebihi perusahaan induknya, Facebook, seperti redaksi lansir dari Telegraph.co.uk (21/06/2018).