Technologue.id, Jakarta – Google termasuk perusahaan yang amat peduli dengan keamanan platform serta para penggunanya. Wajar, perusahaan itu memang punya portofolio layanan yang luas, yang praktis memunculkan potensi celah keamanan apabila tak dijaga dengan baik.

Program bug bounty yang mereka inisiasi sejak November 2010 jadi salah satu cara yang Google lakukan untuk menambal keamanan platform bikinannya. Sudah tujuh tahun lebih, Google mengklaim telah menghabiskan dana sebesar 12 juta USD (setara Rp171 miliar) untuk program ini.

Baca Juga: 

Mesin Pencari Google Bakal Bisa untuk Pesan Hotel dan Tiket

Menariknya di tahun lalu saja, anak perusahaan Alphabet Inc. ini telah menganugerahi 274 pakar keamanan dengan total nominal 2,9 juta USD (Rp41 miliaran). Jumlah itu sebenarnya lebih sedikit dengan “pembelanjaan” tahun 2016 yang melebihi Rp42 miliaran.

Melansir VentureBeat.com (07/02/2018), Google memberikan masing-masing Rp15 miliaran pada white hacker penemu celah di produk-produk Google dan Android yang telah melaporkannya di tahun 2017. Sementara Rp10 miliar sisa dari anggaran total tahun lalu diberikan untuk penemu celah di Chrome.

Baca Juga: 

Google-Nest Kini Resmi “Seranjang”

Selama 2017, ada beberapa temuan menarik dari program bug bounty ini. Salah satunya adalah celah di Google Pixel yang berkaitan dengan Google Chrome sekaligus Android yang ditemukan oleh Guang Gong. Ia lantas menerima reward terbesar dari kategori Android dengan nominal 112.500 USD (setara Rp1,6 miliar).

Baca Juga: 

Aduh, 89 Ekstensi Google Chrome Teracuni!

Oktober lalu, Google juga telah mempersilakan para pakar keamanan mencari celah di produk unggulan di Play Store. Tak tanggung-tanggung, Google menjanjikan 1.000 USD (setara Rp13,5 juta) bagi setiap isu yang ditemukan para peretas untuk aplikasi populer macam Dropbox, Duolingo, Line, Snapchat, Tinder, dan Alibaba.

Share this