Technologue.id, Jakarta – Nokia merupakan pemimpin utama dalam 5G dengan portofolio end-to-end yang kuat. Bisnis Nokia telah berubah, tak hanya membangun jaringan tetap dan jaringan end-to-end, perusahaan ini juga bisnis untuk pemerintah, perusahaan dan konsumen.

“Kami mengakuisisi solusi jaringan nirkabel Motorola sebelum tahun 2012 kemudian meluncurkan rencana transformasi jaringan. Lalu pada tahun 2015, kami pun mengakuisisi Alcatel Lucent yang bisnisnya mengerjakan jaringan tetap (fixed network), jaringan berkecepatan tinggi (high speed network) yang kebanyakan ada di tanah. Selain itu perusahaan tersebut juga menjual mobile broadband seperti yang sudah kami lakukan,” ucap Robert Cattanach, Presiden Direktur Nokia Indonesia.

Baca juga:

Jangan Tunda, Operator Telco Harus Cepat Terjun ke IoT!

Cattanach juga menjelaskan bahwa Nokia mengakuisisi Gainspeed, Deepfield, Comptel  dan Space Time Insight yang merupakan perusahaan analisa. Hal ini karena perusahaan analisa juga semakin mendalam dalam base station dan jaringan. Perusahaan-perusahaan tersebut menghadirkan informasi pada dunia telekomunikasi, sehingga dapat menganalisa dan melayani pelanggannya dengan lebih baik.

- Advertisement -

Nokia juga membangun Nokia Shanghai Bell, yang namanya berasal dari Alcatel Shanghai Bell atau dikenal juga sebagai Bell Labs. Sebagian kepemilikan perusahaan tersebut dipegang pemerintah Tiongkok, dan sebagian lagi dimiliki Nokia.

Baca juga:

Telkomsel Siap Pamerkan Teknologi 5G di Asian Games 2018

Sebagai layanan perangkat lunak telekomunikasi dan 4G, Nokia menempati peringkat kedua di dunia dan ketiga dalam hal layanan. Peringkat ini terus berubah, kadang kami di peringkat pertama, kadang di peringkat kedua, kadang di peringkat ketiga, sama dengan Huawei dan Ericsson.

Nokia mengkapitalisasi megatren dengan strategi memimpin jaringan berkinerja tinggi, jaringan end to end, dengan penyedia layanan telekomunikasi. “Kami satu-satunya perusahaan di dunia yang dapat membangun jaringan telepon yang lengkap dari nol. WDM (Wavelength Division Multiplexing), radio dan semua peralatan lainnya berasal dari Nokia. Jadi jika kami membangun jaringan 5G yang baru atau dalam beberapa kasus membangun jaringan 4G yang baru dari nol, kami dapat melakukannya,” ungkap Robert Cattanach.

“Kemudian kami dapat menjual jaringannya, contohnya adalah dengan menghitung seberapa banyak base station yang dapat ditempatkan di Jakarta, New York, Sidney, Melbourne. Lalu kami membangun bisnis perangkat lunak kuat yang berdiri sendiri. Dan akhirnya membuat bisnis baru dan memberikan kesempatan lisensi dalam ekosistem konsumen”, lanjutnya.

Baca juga:

Pemerintah Kebut Regulasi IoT Rampung Secepatnya

Saat ini Nokia melakukan bisnis di jaringan 5G dan menggandeng lebih dari 50 perusahaan di dunia.  Di bidang IoT, Nokia memiliki WING, yaitu Worldwide IoT Network Grid. Ini adalah environment IoT lengkap, yang memungkinkan membantu perusahaan internasional dalam lingkup yang luas. Sehingga perusahaan yang berpusat di Indonesia atau pun di New York, Amerika atau pun  Melbourne Australia dapat menggunakan infrastruktur ini untuk bisa berada di market seluruh dunia secara cepat di mana ada internet.

Robert Cattanach mengatakan bahwa Indonesia harus mengambil keuntungan dari teknologi baru.  Sehingga evolusi LTE dan 5G mesti dipercepat, dan perlu penataan ulang spektrum untuk efisiensi yang lebih baik. Teknologi 5G dan penggunaannya akan membantu Indonesia dalam meningkatkan produktivitas lebih dari dua kali biaya yang dikeluarkan. Saat ini Indonesia sedang membangun infrastruktur berkecepatan tinggi untuk 5G. Spektrum merupakan bagian penting untuk memungkinkan penggunaan 5G.

“Penggabungan teknologi terbaru Nokia dengan keahlian kelas dunia menjadikan Nokia mitra yang ideal bagi operator di Indonesia. Ekosistem 5G kami mempunyai potensi luar biasa untuk meningkatkan kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari,” pungkasnya.