Technologue.id, Jakarta – Phising bukanlah ancaman digital yang bisa diremehkan. Sebab, bukannya makin berkurang, netizen yang terjebak oleh praktik kejahatan ini terbukti terus bertambah.

Menurut Kaspersky Lab, phising dalam keuangan meningkat 4,4 persen daripada akhir tahun 2017. Kejahatan siber yang berutujuan untuk mencuri data pribadi warganet ini kebanyakan menarget bank, e-shop, dan sistem pembayaran. Adapun negara-negara yang paling sering ditarget oleh para phiser, yaitu Brasil, Argentina, Venezuela, Albania, dan Bolivia.

“Peningkatan serangan phishing yang terus-menerus menargetkan jejaring sosial dan organisasi atau perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna harus tetap waspada terutama dalam aktivitas online yang mereka lakukan,” Nadezhda Demidova, analis konten web di Kaspersky Lab, menjelaskan pada redaksi.

Baca juga:

Awas, Laman Facebook Palsu Banyak Gentayangan!

Meski netizen Indonesia bukan target utama praktik ini, Anda tetap harus waspada. Karena siapa saja yang online amat berpeluang terserang phising. Ada beberapa langkah untuk melindungi diri dari phising seperti berikut:

1. Selalu periksa link dan alamat pengirim email yang mencurigakan ketika masuk ke inbox Anda sebelum mengklik apa pun. Lebih baik, jangan mengklik tautan yang menurut Anda mencurigakan, tetapi langsung ketikkan pada bar alamat browser Anda atau googling terlebih dulu untuk mencari tahu kebenaran informasi dan situs yang hendak Anda buka.

2. Sebelum mengklik link apa pun, periksa apakah alamat yang ditampilkan sama dengan tautan sebenarnya. Ini dapat dilakukan dengan mengarahkan mouse ke tautan (hover).

Baca juga:

Susah Deteksi Malware di Alat Smart Home, Ini Alasannya

3. Gunakanlah koneksi yang aman, terutama ketika Anda mengunjungi situs web yang sensitif. Lebih bagus lagi, hindari mengaksesnya dengan menggunakan Wi-Fi publik tanpa password atau yang tidak dikenal.

4. Untuk perlindungan maksimal, gunakan solusi VPN yang mengenkripsi trafik Anda. Saat ini, sudah ada beberapa VPN yang bisa digunakan secara cuma-cuma.

5. Periksalah apakah suatu web sudah menggunakan koneksi HTTPS. Jangan percaya kepada situs-situs yang belum memakai HTTPS, terlebih kalau Anda diminta memasukkan data tertentu ke situs semacam perbankan online, toko online, penyedia layanan email, atau media sosial.

Baca juga:

Ratusan Model Smartphone Android Ada Adware-nya, dari Merek Apa Saja?

6. Jangan pernah membagikan data sensitif Anda, seperti login dan kata sandi, data kartu bank, dan lainnya kepada pihak ketiga. Perusahaan resmi tidak akan pernah meminta data seperti ini melalui email.

9. Gunakan solusi keamanan atau anti-spam dan anti-phising yang Anda percaya.